Pangeran Bertopeng
- By ginanjar rahardi
- Published 02/3/2008
- Kids
-
Rating:




Unrated
Pangeran Bertopeng
Di
sebuah desa, hiduplah tiga pemuda kakak beradik. Rommy, Edward dan
Albert. Edward dan Albert sangat tampan dan gagah. Sangat berbeda
dengan kakak sulung mereka yang berwajah seram. Kedua pemuda ini sering
mengejek kakak mereka.
Suatu hari, Rommy tidak tahan lagi mendengar ejekan-ejekan itu. Ia mendatangi ibunya dan mencurahkan kesedihannya,
“Bunda, mengapa wajahku tak setampan kedua adikku? Aku tak tahan melihat orang-orang yang ketakutan saat melihat wajahku….”
“Anakku,
Bunda juga memikirkan keadaanmu! Bunda punya peninggalan topeng sakti
dari kakekmu… Jika kau memakainya, kau akan tampak gagah dan tampak.
Bahkan lebih dari kedua adikmu. Orang-orang tidak akan takut dan
mengejekmu lagi. Asal, kau jangan menjadi sombong,” ujar si ibu.
Sejak
saat itu, Rommy selalu mengenakan topeng peninggalan kakeknya. Kini tak
ada lagi orang yang takut jika melihat wajahnya. Juga tak ada yang
mengejeknya. Namun, Edward dan Albert tambah membencinya. Sebab Rommy
semakin disayangi orang banyak karena ia suka menolong.
Sementara
itu, Raja Istana Biru Langit sedang mencari calon suami untuk Putri
Rachel. Raja Istana Biru Langit sudah sangat tua. Ia ingin putrinya
segera menikah dan menggantikan kedudukannya. Ia lalu mengadakan pesta
besar di istananya. Semua pemuda gagah dan pandai boleh datang ke pesta
itu. Edward dan Albert sangat gembira mendengar berita itu.
“Ayah,
Bunda, kami akan mengikuti pesta di Istana Biru Langit. Kemampuan
perang dan ilmu pengetahuan kami sangat tinggi. Tentu salah satu dari
kami bisa lolos menjadi calon suami Putri Rachel,” ucap Edward sombong.
“Kami akan membuat Ayah Bunda bangga karena kita akan menjadi anggota kerajaan….” tambah Albert.
“Dan Rommy, apakah kau tidak tertarik mengikuti pesta ini?” tanya sang Bunda.
“Rasanya
aku tidak mungkin mengikuti pesta ini. Biarlah aku menonton saja.
Semoga Edward dan Albert bisa menang,” jawab Rommy merendah.
Pesta
pertandingan akhirnya tiba juga. Banyak pangeran dari berbagai negeri
mengikuti acara tersebut. Juga para pemuda yang tampan, pandai
berperang dan berilmu. Acara dimulai dengan ujian ilmu pengetahuan.
Lalu ujian keahlian berperang. Banyak calon mulai berguguran. Yang
tersisa hanya beberapa orang, termasuk Edward dan Albert. Ujian
terakhir adalah mengalahkan singa kelaparan di arena. 
Serangan
singa yang kelaparan itu ternyata amat ganas. Namun aneh. Lawan yang
kalah ditinggalkannya begitu saja. Tidak digigit dan dilukai. Albert
termasuk pemuda yang gagal mengalahkan singa ini. Kini tinggal Edward
sendiri yang masih bertahan.
Edward
bertarung dengan sengit. Singa yang telah kelelahan ini tidak lagi bisa
melawan selincah tadi. Tentu saja Edward beruntung. Ia dapat memojokkan
singa itu.
“Hahaha… kuhabisi kau!” Teriak Edward sambil menghunuskan pedangnya ke arah tubuh si singa.
Singa
itu mengelak. Namun ia meraung karena terluka sedikit. Edward semakin
pongah dan menyerang kembali. Ketika si singa akan ditusuk, tiba-tiba…
“Edward, cukup! Jangan sakiti lagi singa yang baik itu…” teriak Rommy
sambil meloncat dari kerumunan orang banyak .
“Hei, kau tak suka aku memenangkan pertandingan ini?! Minggir kau!” marah Edward.
“Edward,
kasihanilah singa jinak ini. Ia kan hanya disuruh bertanding, makanya
ia tidak membunuh. Seharusnya kau juga begitu, tidak membunuh,” ujar
Rommy.
Edward
menjadi dongkol mendengar nasehat Rommy. Tanpa bicara, ia langsung
menyerang kakaknya itu. Rommy berusaha mengelak, dan tidak membalas
menyerang. Para penonton seperti tersihir, dan tak ada yang berani
mencegah. Sementara itu, Putri Rachel kagum melihat kebaikan Rommy.
“Prang…”
pedang di tangan Edward jatuh. Rommy dengan sigap menawan Edward yang
pucat. Ia tidak percaya bisa dikalahkan kakaknya.
Rakyat banyak langsung bertepuk tangan memberi selamat. Rommy cepat-cepat menolong singa yang terluka.
“Rakyatku, akhirnya pertandingan ini selesai. Pemuda pemenang ini akan mendampingi putriku!” seru Raja Istana Biru Langit.
“Hahaha, apa Putri Rachel tak takut melihat wajahnya?” teriak Edward.
“Ya ya, lihatlah wajahnya yang sebenarnya. Sangat buruk,” teriak Albert.
“Baginda,
wajahku memang sangat menakutkan. Karena itu hamba tidak berani membuka
topeng ini. Biarlah Edward yang jadi pemenangnya, karena hamba memang
tidak bermaksud mengikuti pertandingan ini. Hamba hanya ingin menolong
singa ini…” ucap Rommy.
“Tidak!
Pemuda bertopeng, apapun bentuk wajahmu, kaulah pemenangnya. Aku
percaya kau akan menjadi pemimpin yang disegani….” teriak Putri Rachel
tiba-tiba.
Putri
Rachel turun dari tempat duduknya. Perlahan ia membuka topeng yang
selalu membungkus wajah Rommy. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat
wajah tampan di balik topeng itu.
“Kau sangat tampan, kenapa selalu bertopeng?” kata Putri Rachel.
Rommy
tidak percaya pada ucapan Putri Rachel. Putri itu lalu memberinya kaca.
Ternyata topeng ajaib itu telah merubah wajah Rommy. Menjadi tampan,
sesuai dengan ketampanan hatinya.
Akhirnya
Putri Rachel menikah dengan Rommy. Setelah menjadi raja, Rommy tetap
tidak pernah melepaskan topengnya. Akhirnya ia dikenal dengan julukan
Pangeran Bertopeng yang Bijaksana.
Diambil dari Majalah
Teman Bermain dan Belajar.
Comments
No popular authors found.
No popular articles found.