Tolong, Bebaskan Aku…
http://www.cerpen.web.id/articles/48/1/Tolong-Bebaskan-Akua/Page1.html
By ginanjar rahardi
Published on 03/7/2008
Bel tanda pulang sekolah
berbunyi. Teman-temanku berhamburan keluar kelas. Dengan langkah gontai
alu pun meninggalkan kelas. Hari ini aku malas pulang ke rumah. Aku
teringat omelan Mama tadi pagi. Mama marah karena aku kemarin membeli
tas ransel trendi tanpa ijin Mama. Padahal aku membeli dengan uang
tabunganku sendiri. Apalagi teman-temanku sudah banyak yang memakai tas
ransel itu. Uh!
Tolong, Bebaskan Aku…
Bel tanda pulang sekolah
berbunyi. Teman-temanku berhamburan keluar kelas. Dengan langkah gontai
alu pun meninggalkan kelas. Hari ini aku malas pulang ke rumah. Aku
teringat omelan Mama tadi pagi. Mama marah karena aku kemarin membeli
tas ransel trendi tanpa ijin Mama. Padahal aku membeli dengan uang
tabunganku sendiri. Apalagi teman-temanku sudah banyak yang memakai tas
ransel itu. Uh!
Aku
memutuskan untuk pergi ke rumah Tante Mo saja. Jaraknya memang agak
jauh, di pinggiran kota. Tapi hari ini aku tidak mau pulang. Biar saja
Bik Narti pusing menunggu aku makan siang. Biar saja Mama kebingungan
mencariku. Hup! Aku melompat ke sebuah bus besar jurusan rumah Tante
Mo. Aku sudah hapal jalannya. Sebab, aku sudah beberapa kali datang ke
rumah Tante Mo.
Sesampai
di rumah Tante Mo, suasana sepi meyambutku. Tentu saja, tante Mo belum
pulang dari kantornya. Tante Mo bekerja di kantor majalah anak-anak
terkenal. Tante Mo juga seorang pengarang. Semua pintu dan jendela
rumah Tante Mo terkunci. Rumah besar dan tua itu terasa hening. Aku
tahu dari Mama kalau rumah itu peninggalan jaman Belanda. Mama menyuruh
Tante Mo menempatinya setelah Nenek meninggal.
Aku
tahu kedatanganku tidak tepat. Tapi untuk pulang ke rumah! uh, maaf
saja! Biar kutunggu sampai Tante Mo pulang. Ah, tiba-tiba aku ingat
pintu gudang yang tidak terkunci rapat. Tante Mo selalu lupa untuk
memperbaiki kuncinya yang rusak. Mudah-mudahan keadaaannya masih
demikian. Jadi aku bisa menunggu Tante Mo di gudang saja.
Ternyata
harapanku terkabul. Setelah menggoyang-goyangkan pintunya beberapa
kali, akhirnya pintu gudang terbuka. Udara sedikit pengap. Aku membuka
jendela kecil. Udara segar masuk dan keadaan dalam gudang lumayan
terang.
Di
sudut gudang terdapat tumpukan kardus yang entah apa isinya. Di pojok
ada kursi-kursi tua rusak, seperangkat sofa usang, meja belajar yang
ditumpuk rapi. Di sisi lain terdapat sebuah lemari besar tua. Aku
bergegas ke sana. Membuka kedua pintunya lebar-lebar. Jejeran buku-buku
yang tersusun rapi menyambutku. Ini yang aku cari. Jadi aku bisa
membaca sambil menunggu Tante Mo pulang.
Semua
buku-buku itu koleksi Tante Mo. Tentu Tante Mo tidak akan tega meloak
buku-buku lama itu. Aku mengambil sebuah buku cerita petualangan.
Kemudian duduk di sofa. Debu beterbangan. Aku menutup hidung dan
bersin. Setelah itu aku hanyut ke dalam kisah petualangan dalam buku
itu. Dan tanpa sadar aku pun tertidur.
Aku terbangun ketika hari menjelang senja. Cahaya matahari redup masuk gudang. Terhalang pepohonan.
“Sudah
bangun rupanya,” ujar seseorang. Membuat aku terperanjat. Seorang anak
perempuan tengah menatapku sambil tersenyum ramah. Ditangannya ada
sebuah buku cerita . Siapa dia? Aku merasa heran karena di rumah Tante
Mo tidak ada anak kecil.
“Siapa kamu?” tanyaku heran. Anak itu tersenyum sebelum menjawab.
“Nina,
pemilik gudang ini. Dan kamu memasukinya tanpa ijin!” katanya sambil
merapikan rambutnya yang ikal tidak beraturan. Aku melongo. Bukankah
gudang yang aku masuki ini punya Tante Mo? Kenapa anak itui berani
mengatakan miliknya?
“Gudang ini punya Tante Mo. Aku bebas masuk sambil menunggu Tante Mo pulang!” ujarku ketus.
“Kamu
anak yang keras kepala, ternyata. Kamu kabur, ya?” Aku melotot menatap
anak asing itu. “Buktinya kamu masih pakai seragam sekolah,” lanjutnya
lagi.
“Ya, aku sedang marah pada Mama,” jawabku pendek.
“Tidak baik ngambek sampai kabur segala. Nanti kamu akan menyesal seperti aku.”
“Apa urusanmu?’ kataku marah.
“Dulu
aku pun pernah marah pada Mama. Mama melupakan ulang tahunku. Aku
pura-pura kabur dengan bersembunyi di gudang ini. Aku tahu gudang ini
mempunyai ruang bawah tanah. Aku masuk ke dalamnya dengan membawa buku
harian. Aku menguncinya dari dalam. Aku senang membayangkan Mama akan
kelimpungan mencariku. Tapi lama-lama aku menyesal bila ingat Mama
mengkhawatirkan aku. Aku ingin keluar. Tapi aku tidak bisa keluar,
sebab aku lupa membawa kuncinya. Aku terkurung di ruang bawah tanah
karena ulahku sendiri. Selama bertahun-tahun. Aku perlu bantuanmu,
tolong bebaskan aku….”
Aku
menatap Nina dengan ngeri. Matanya menjadi sendu. Wajahnya terlihat
pucat. Nina terus mentapku aneh. Aku pun menghambur keluar gudang
ketakutan. Ternyata Nina itu…..
Di halaman aku melihat mobil Tante Mo berhenti. Ufh, syukurlah, Tante Mo pulang.
“Tante, antarkan Karin pulang,” ujarku memeluk Tante Mo.
“Aduh,
Karin, kamu bikin Mama kamu sedih dan cemas. Mama menyuruh Tante Mo
mencari kamu. Mama kamu menangis terus,” cerocos Tante Mo.
“Iya,
antarkan Karin pulang. Karin mau minta maaf,” kataku sungguh-sungguh.
“Tante Mo, tadi di gudang Karin bertemu Nina. Dia terkurung di ruang
bawah tanah selama bertahun-tahun. Jadi Nina sudah jadi hantu. Tapi dia
minta dibebaskan,” ceritaku kemudian. Tante Mo malah tertawa.
“O,
jadi karena itu kamu minta pulang? Nina berhasil membuat kamu takut. Si
bandel itu memang tukang kibul. Dia anak Pak Jamal, tetangga Tante,”
jelas Tante Mo sambil terus tertawa.
Mobil
Tante Mo mulai berjalan untuk diparkir. Aku menoleh ke belakang. Di
bawah pohon rambutan aku melihat Nina melambaikan tangan kepadaku.
Sambil tersenyum. Uh, sebal!
Diambil dari Majalah
Teman Bermain dan Belajar.