Guci Ajaib Palsu
- By ginanjar rahardi
- Published 03/10/2008
- Kids
- Unrated
Oben gembira diajak Indra ikut
berlibur ke kampung orang tua Indra. Sudah lama ia ingin melihat
kampung Indra di daerah pantai selatan. Sebab Indra selalu bercerita
seru mengenai kampung Cijampang.
Kenyataannya
cerita Indra tidak berlebihan. Begitu tiba di kampung itu, Oben merasa
takjub melihat pemandangan di depannya. Hamparan laut dengan pasir yang
berwarna putih.
“Benar-benar indah,” puji Oben kagum.
“Ya,
apalagi kalau kita ke pantai Ujung Genteng. Kita bisa melihat taman
laut. Bahkan di sana ada bekas dermaga tua pada jaman Belanda,” tunjuk
Indra.
“Nanti sore kita kesana, sekalian melihat matahari tenggelam. Sekarang kita istirahat dulu sambil minum kelapa muda.”
“Boleh juga usulmu,” timpal Oben girang mendengar kata kelapa muda.
Mereka segera beristirahat sambil menghabiskan air kelapa muda yang dipetik Pak Kusnadi, Paman Indra.
“Selain ke pantai, kita bisa main kemana lagi?” tanya Oben ingin tahu.
“Kalau mau lihat yang aneh, ayo kita ke kampung nelayan,” ajak Pak Kusnadi.
“Apanya yang aneh?” tanya Oben.
“Dua
hari lalu ada nelayan yang menemukan guci Cina dari dasar laut. Nelayan
itu kemudian mimpi didatangi kakek tua dari Cina. Dalam mimpinya, kakek
itu berkata bahwa guci itu ajaib. Bisa mengabulkan permintaan siapapun,
asal memasukkan uang ke dalam guci itu.”
“Wah, menarik juga. Apa Pak Kus pernah ke sana?”
“Ah, Pak Kus tidak begitu percaya cerita seperti itu. Tapi orang kampung ini dan kampung lainnya banyak yang ke sana.”
Oben menoleh ke arah Indra. “Nanti sore kita sekalian melihat guci ajaib itu, yuk!” ajak Oben.
“Boleh.
Kebetulan letak pantai Ujung Genteng tak jauh dari sana. Eh, memangnya
kamu percaya pada keajaiban guci Cina itu?” tanya Indra.
“Tentu saja tidak. Aku cuma penasaran ingin melihat guci itu,” ujar Oben.
Pukul
empat sore mereka bergegas menuju kampung nelayan. Tidak sulit
menemukan rumah nelayan pemilik guci ajaib itu. Banyak orang yang
datang ke rumah itu.
“Kalau
ingin minta sesuatu, harus cepat-cepat. Katanya minggu depan guci itu
mau dibeli orang Jakarta,” terdengar bisik-bisik di antara pengunjung.
Setelah
antri cukup lama, Oben dan Indra akhirnya mendapat giliran. Nelayan
pemilik guci agak terkejut melihat Oben dan Indra. Baru kali ini ia
menerima tamu anak-anak.
“Kami
dari Jakarta, Pak. Sengaja datang untuk minta tolong pada guci ajaib,”
Oben buru-buru memamerkan uang sepuluh ribu rupiah di tangannya.
Nelayan
itu segera mempersilakan Oben dan Indra masuk ke sebuah kamar kecil
dari bilik bambu. Di sudut kamar itulah mereka melihat guci itu.
Ukurannya lumayan besar. Sekitar setengah meter tingginya. Ada lukisan
perempuan bermata sipit dengan rumpun-rumpun bambu. Seperti umumnya
lukisan Cina, ada tulisan Cina di antara lukisan itu.
“Ucapkan permintaan kalian, lalu masukan uang ke dalam guci itu,” ujar si nelayan.
Oben
merogoh sakunya. Namun ketika ia mengeluarkan uang, tiba-tiba sesuatu
terjatuh dari sakunya. Cling! Benda itu menggelinding.
“Aduh, cincin warisan Ibu saya!” seru Oben.” Tolong bantu carikan. Di sini gelap. Saya kurang bisa melihat.”
Nelayan
itu membantu Oben mencari cincin. Setelah agak lama baru lelaki itu
menemukannya. Buru-buru ia memberikannya kepada Oben.
“Terima
kasih, Pak. Oh, iya, permintaannya sudah saya sebutkan. Uangnya juga
sudah dimasukkan tadi.” Oben lalu mengajak Indra keluar.
Setelah jauh dari rumah itu Oben tertawa geli sendiri.
“Mengapa tertawa? Dan sejak kapan kamu membawa cincin warisan?” tanya Indra.
“Lucu!
Benar-benar lucu! Hahaha, cincin itu kutemukan tadi di kamar mandi
pamanmu. Kupikir aku harus meminjamnya sebelum kukembalikan pada
pamanmu. Siapa tahu berguna. Dan ternyata memang berguna…”
“Maksudmu?” Indra makin bingung.
“Sewaktu kalian mencari cincin itu, aku membaca tulisan Cina di guci itu.”
“Memangnya kamu mengerti huruf dan bahasa Cina?”
“Itu
bukan huruf dan bahasa Cina. Setelah kuperhatikan, ternyata itu huruf
latin biasa. Namun dihiasi sehingga mirip huruf kanji yang dipakai
orang Cina. Bahasanya juga bahasa Indonesia. Kalau mata yang melihatnya
kurang teliti, pasti akan menyangka itu huruf dan bahasa Cina. Makanya
sengaja kujatuhkan cincin ini, karena aku perlu waktu lama untuk
membacanya,” papar Oben.
“Memangnya tulisan apa yang tertera di guci itu?” tanya Indra penasaran.
“Guci buatan Plered, akhir Agustus 2001.”
“Plered? Rasanya aku pernah dengar!”
“Masak
lupa sih? Itu kan nama tempat, pusat indutri gerabah dan keramik di
Jawa Barat yang terkenal. Nah, berarti itu bukan guci Cina asli. Semua
cerita tentang guci ajaib itu juga palsu!” Oben menggeleng. “Kita harus
minta pamanmu melapor ke kantor polisi. Kasihan, banyak penduduk desa
yang tertipu.”
Indra menelan ludah. “Tapi… kita kan mau melihat matahari tenggelam di pantai Ujung Genteng…”
“Besok, kan, matahari masih akan terbit dan tenggelam. Gampang. Kita pulang dan laporan dulu sama pamanmu. Ayo!” paksa Oben.
Indra
mengangkat bahu, lalu mengikuti langkah Oben. Percuma melawan Oben.
Kemauannya tidak pernah bisa ditentang siapapun. Namun, biar
bagaimanapun Indra bangga memiliki sahabat secerdik Oben.
Diambil dari Majalah
Teman Bermain dan Belajar.
Diambil dari Majalah
