Pelajaran Berharga Dari Desa
- By ginanjar rahardi
- Published 03/10/2008
- Kids
-
Rating:




Unrated
Pelajaran Berharga Dari Desa

Liburan
sekolah kali ini Ego beruntung sekali. Sudah lama ia ingin menikmati
berlibur di desa kelahiran ayah ibunya. Tapi selalu ada saja halangan.
Sekarang rupanya kesempatan itu datang juga.
Beberapa
hari lalu, paman Ego yang tinggal di desa berkunjung. Ketika ia akan
pulang, liburan sekolah Ego sudah dimulai. Itu sebabnya Paman mengajak
Ego berlibur ke desa. Tentu saja Ego tidak menolak. Ayah ibunya juga
setuju.
Sebagai
anak kota, Ego merasa anak-anak desa tidak sepintar anak-anak kota.
Pengetahuan anak-anak desa pasti tidak sebanyak pengetahuan anak-anak
kota, pikir Ego. Karena itu dengan penuh percaya diri Ego pergi ke desa
pamannya. Ia merasa anak-anak desa akan memandanginya kagum karena ia
anak kota.
Paman
mempunyai satu anak laki-laki sebaya Ego. Namanya Budi. Dialah yang
menemani Ego bermain sehari-hari. Suatu kali Ego mengajak Budi berenang
di sungai yang letaknya di pinggir desa.
“Jangan,
Go! Penduduk desa jarang ke sungai itu. Apalagi untuk berenang disitu.
Letaknya cukup jauh. Arus airnya pun agak deras dan berbahaya. Itu
sebabnya orang tua selalu melarang anak-anak mandi di sungai tersebut,”
Budi menjelaskan.
Namun,
Ego memang keras kepala. Ia tetap memaksa Budi untuk mengantarnya ke
sungai itu. Karena tidak mau bertengkar dengan sepupunya itu, Budi
terpaksa mengikuti keinginan Ego. Mereka pun pergi renang di sungai
itu.
Sebenarnya,
Ego punya maksud tertentu memaksa Budi renang di sungai itu. Ia ingin
memperlihatkan kepandaian berenangnya kepada anak-anak desa. Dia ingin
membuktikan kelebihannya sebagai anak kota. Sebelumnya, teman-teman
baru Ego di desa itu memang telah mengajak Ego lomba renang di sungai.
Mungkin merekapun ingin menguji kepandaian anak kota berenang.
Di
Jakarta, Ego latihan berenang bersama kawan-kawannya sekelas setiap
hari Minggu. Mereka memiliki pelatih khusus, mantan olahragawan renang.
Ego yakin anak-anak desa pasti belajar berenang sendiri-sendiri saja.
Mereka tidak mungkin memiliki pelatih renang khusus. Karena itu, pasti
kepandaian renangnya tidak seberapa. Ini yang membuat Ego percaya betul
akan menang dalam adu renang dengan anak-anak desa.
Setelah
menyiapkan pakaian renang, diam-diam Budi dan Ego berangkat menuju
sungai. Agar tidak ketahuan orangtuanya, Budi menarik Ego lewat pintu
belakang rumah. Mereka terpaksa memilih jalan yang dipenuhi semak
belukar. Setelah cukup lama berjalan barulah mereka sampai. Di sungai
tampak sudah banyak anak-anak yang sedang berenang.
“Ayo
Ego, buka bajumu cepat,” seru anak-anak yang sedang asyik bermain air
di sungai. Ego cuma tersenyum menanggapi ajakan anak-anak desa
tersebut.
Alangkah
enaknya mandi di sungai yang airnya jernih, pikir Ego. Apalagi udara
sudah mulai panas pula. Tanpa membuang waktu dia segera melepas baju
dan celananya. Sekarang dia sudah berpakaian renang dan siap terjun ke
sungai. Sebelum terjun Ego mencari tempat yang agak tinggi. Dia ingin
memperlihatkan kepandaiannya melompat ke dalam air dari tempat yang
tinggi. Setelah berdiri di tebing yang paling tinggi di sekitar sungai
itu, Ego pun mengambil ancang-ancang. Dengan gaya perenang hebat yang
penuh percaya diri, Ego pun melompat ke dalam sungai.
Byuuuuurrrr…
Air bercipratan ke mana-mana.
Setelah
beberapa saat, Ego tidak juga muncul ke permukaan. Anak-anak desa
berpikir mungkin Ego langsung menyelam dan tahu-tahu muncul di seberang
sungai yang lebar itu. Mereka menduga Ego ingin bikin kejutan. Tapi
tiba-tiba…
“Tolooooong...
tolooooong…” terdengar teriakan dari arah hilir sungai. Jaraknya sukup
jauh dari tempat Ego terjun tadi. Semua anak desa menoleh ke arah
datangnya suara itu. Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata itu suara
Ego. Kepalanya tampak timbul tenggelam. Tapi suaranya minta tolong
masih terdengar.
Anak-anak
segera berenang ke arah Ego. Mereka beramai-ramai menarik tubuh anak
kota yang hampir tenggelam tersebut ke pinggir. Lalu seorang anak yang
paling besar membantu Ego mengeluarkan air yang tertelan.
Setelah beberapa lama, baru Ego bisa duduk. Dengan wajah malu ditatapnya anak-anak desa yang baru saja menolongnya.
“Terima kasih kawan-kawan. Kalau kalian tidak menolongku… mungkin aku sudah…”
“Sudahlah, sudahlah, tidak apa-apa. Kami sudah biasa hidup tolong menolong di desa ini,” kata anak desa yang paling besar tadi.
Ego
lalu menyalami satu persatu anak-anak desa yang telah menyelamatkan
nyawanya. Ia tak menyangka anak-anak desa yang dipandangnya bodoh ini
ternyata telah menyelamatkan nyawanya. Ego sadar. Berenang di sungai
yang arusnya deras ternyata tidak semudah di kolam renang yang airnya
tenang. Selain itu, Ego juga sadar. Kalau sombong, bisa merugikan diri
sendiri. Liburan kali ini Ego sungguh beruntung. Banyak pelajaran
berharga yang didapatnya di desa ini. ****
Diambil dari Majalah
Teman Bermain dan Belajar.
1 Response to "Pelajaran Berharga Dari Desa" 
This article has been added to your 'Favorites' list.