Kisah Mengharukan Anak Yang Mencoret Mobil Ayahnya
- By ginanjar rahardi
- Published 04/3/2009
- Keluarga
-
Rating:




Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
Sumber : dikutip dari milis EMBA
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
Sumber : dikutip dari milis EMBA
Spread The Word
Comments
Comment #1 (Posted by Deny Hutauruk)
Rating:








"penyesalan selalu ada dibelakang kita"
Comment #2 (Posted by bellucci)
Rating:








harga sebuah mobil lbih mahal dibandingkan rasa sakit dari org yang kt sayang....hhhuuuufffff
Comment #3 (Posted by ina)
Rating:








mengharukan sekali,, seandainya waktu dapat diputar kembali,.....
hikz,,, hikz,,...
Comment #4 (Posted by sads)
Rating:








lbih mahal rasa sakit org yg kita sayang daripada harga sebuah mobil,tapi ini,,sangat mengharukan sekali,hiks........hiks...............
Comment #5 (Posted by Faizal Zacki)
Rating:








pelajaran b'harga bwt para ortu, agar tidak menggunakan kekerasan dalam mendidik anak.. perlu diingat anak adalah titipan dari Yang Kuasa, dan nanti akan d'minta pertanggungjawabn nya...
Comment #6 (Posted by Ina Debora Ratu Ludji)
Rating:








Anak mengekspresikan kemampuannya namun orang tua menghancurkannya karena tidak peka akan kebutuhan anak.
Comment #7 (Posted by ayatie)
Rating:








cedehnya cita ni.....
sungguh kasihan ank kecil trsbut.
hilang kereta boleh di ganti...
tapi hilang tangan nak di ganti dengan apa??????!!!!!!!!!!!
Comment #8 (Posted by yuri)
Rating:








orng tuabodoh,namanya juga anak anak.
Comment #9 (Posted by Nana Njaten)
Rating:








Aq sangat terharu........sampai2 aq menangs membacanya....jangan sampai kesalahan kecil mengambil masa depan orang yg kita sayang.....kasihan bgt anak itu...
Comment #10 (Posted by holly)
Rating:








ga tau mau comment apa...? yang jelas orng tua jahat sekali hanya karna @ mobil, tega membuat kedua tangan anknya hilang U_U'
Comment #11 (Posted by kaccimo)
Rating:








Kasihan........... Sungguh pelajaran berharga untuk saya sebagai orang tu.....
Comment #12 (Posted by calma)
Rating:








aku sedih setelah membaca cerita ini,
ingat kepada para ortu jangat terlalu
jahat sama anak anak,namanya juga anak kecil ,pendapat saya lebih penting anak dari pada mobil baru
><
^
Comment #13 (Posted by inness)
Rating:








ceritanya mengharukan sekali . huhu .
Comment #14 (Posted by anna)
Rating:








tak ada penyesalan di dpn, jaga titipan tuhan dengan kasih sayang
Comment #15 (Posted by firman)
Rating:








terharu btul lah baca nya
Comment #16 (Posted by Shandy)
Rating:








Hampir mengeluarkan air mata membacanya,suatu pelajaran untuk orang tua dalam mendidik anak tidak dengan kekerasan apalagi anak itu masih kecil dan tidak tau apa2 !!
Comment #17 (Posted by sean)
Rating:








menghadapi masalah jangan dengan emosi / harus pke kepala dingin....agr nanti tidk meneysl jadinya...ceritanya mengharukan....bkin aku sadar kadang kita terlalu bertingkah berlebihan hanya demi harta tanpa peduli keluarga dan kasih sayang sesama...
Comment #18 (Posted by an unknown user)
Rating:








masa masih anak2 umur 3 lagi...
itukan anak yang belum tahu apa2!!!
Comment #19 (Posted by anggie)
Rating:








smpe kpan pun.. smua orang tua gk akan ngerti prazaan anak 'y.. kdang dy mlah sibuk sndri sma krjaan 'y tnpa pduli arti sbuah kluarga..
Comment #20 (Posted by erwan)
Rating:








sungguh tidak punya perasaan sbg orang tua menghukum anaknya sendiri sampai begitu.....skr penyesalan lah yang terjadi
Comment #21 (Posted by nunik)
Rating:








Maaf, Milis EMBA itu apa ya? Saya ingin minta izin untuk copast dan dimasukkan ke dalam naskah buku saya. Izinnya ke mana ya? Terima kasih.
Comment #22 (Posted by andrie deas fadhillah)
Rating:








anjing bapaknya itu bangsaat. mampus lu mati disana dipotong tuh tangan lu njing bangsaaaat !
Comment #23 (Posted by dante"s)
Rating:








sungguh kejam tu orang tua, ceritanya bagus banget ampe air mataku bercucuran,bapanya sempak arab, ah payah taplaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak,
Comment #24 (Posted by ietha)
Rating:








Astagfirullah.....
mreka tidak pantas di sebut orang tua... pembantu aja lebih sayang sama anaknya......
sedih... pengen ketemu sama anaknya... hikss...hikss...hikss
sabar ya nak... pintu surga sudah terbuka lebar untuk km....
Comment #25 (Posted by yulie)
Rating:








aku bener2 heran.. ko ada orang tua sejahat itu? padahalkan cuma gr2 seorang anak kecil, dan itupun anak kandungnya sendiri..
ya tuhan.. mudah2an ga ada lagi orang tua kayak gitu?!!
Comment #26 (Posted by jaka)
Rating:








wah...... cerita yg bagus bangeet... sumpah smpai keluar nie air mata, in bwat semua ortua, supaya lebih perhatian lg sm anak2nya... jangan terlalu bnyak d tinggal anak seorang diri.... berilah kasih syang yg penuh sm anak...... pentingin kpntingan anak..... krna it titipan sang Ilahi... Allah yg Maha Besar..
Comment #27 (Posted by AGUS RIJAL)
Rating:








apakah ini true story atau sekedar kreativitas dan atau imajinasi penulis saja????
Cerita ini disadur/dijiplak/diterjemahkan/dicopy dari cerita aslinya berbahasa inggris, taun 2000 an muncul di sirkulasi email di west coast US, sampe ada kelompok pemerhati anak yg mencari tau ini hanya karangan belaka apa kejadian sebenarnya dan kelompok tersebut berencana untuk mengajukan ayahnya ke meja hijau.
Jika diluar negeri, sepertinya kisah nyata.......(kisah tersebut dikutip dari milis EMBA, dan debritto), banyak beredar di Indonesia tahun 2008an)
Comment #28 (Posted by cindy curelly)
Rating:








ssstttt...... ada yang mencontek cerita ini, loh, diluar sana!
Comment #29 (Posted by atik)
Rating:








bgas bnget ni crita hampir menangis aku.terutama bait2 trakir,sungguh mengharukan..
Comment #30 (Posted by idenk)
Rating:








kisah yang memilukan , dan pelajaran yang sanga bergarga buat orang tua, termasuk saya
Comment #31 (Posted by sani adinugraha)
Rating:








kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah..!!
pikirkan lagi dengan hati dingin sebelum melakukan suatu tindakan yang menurut hati kecil kita tidak benar.
Comment #32 (Posted by andriyanto)
Rating:








ada jg yah , orang tua memberi hukuman am anaknya ampe ky gt .
skrg bru nyesel , kan orang tuanya yang slh , sibuk dgn kerjaan , udah gitu stlh di hkm g prnh si tengok keadaan nya gmn lg ,
Comment #33 (Posted by Syafari)
Rating:








Bagaimana bsa seorang ayah bgtu tega memukul anakx,...??? jangankan memukul anak/keponakan sendri, memukul anak tetanggapun q tak tega...
Comment #34 (Posted by cha)
Rating:








astaga
ada ya orang kaya gthu
Comment #35 (Posted by sandi)
Rating:








ayahnya setan,ibunya iblis...udah tau masih anak2, kenakalan anak2 itu sih biasa. maklumin aja...apalagi memberi pelajaran dengan tindakan kekerasan, sekarang apa yg didapat ? hanya 1 : penyesalan. waktu takkan terulang kembali. ingat pakailah cara2 bijaksana dalam menentukan sikap dan tindakan.