c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Humor

Abu Nawas Menangkap Angin

CR
Cerita Rakyat Asia

Diterbitkan 9 September 2026 • 2 Menit Baca

Suatu pagi, Sultan Harun Ar-Rasyid terbangun dengan gagasan yang aneh. Ia memanggil Abu Nawas ke istana.

"Abu Nawas," titahnya, "aku ingin kau menangkap angin dan membawanya kemari. Kuberi waktu tiga hari. Bila gagal, kau akan dihukum."

Para menteri saling berbisik. Kali ini pasti Abu Nawas tak akan lolos. Siapa yang bisa menangkap angin?

Abu Nawas pulang dengan wajah biasa-biasa saja. Hari pertama ia tidur siang. Hari kedua ia berjalan-jalan ke pasar dan bercanda dengan para pedagang. Istrinya cemas setengah mati. "Suamiku, besok batas waktumu! Apa yang akan kau bawa kepada Sultan?"

"Tenang saja," jawab Abu Nawas. "Angin itu ada di mana-mana. Menangkapnya mudah. Yang sulit adalah membuktikan bahwa kita sudah menangkapnya."

Pada malam hari ketiga, Abu Nawas makan dengan lahap. Ia memilih hidangan kacang-kacangan, ubi, dan kol, lalu minum air banyak-banyak. Pagi harinya ia mengambil sebuah botol kosong dan menyumbatnya dengan rapat. Lalu ia berangkat ke istana.

Di hadapan Sultan, Abu Nawas menyerahkan botol itu dengan penuh hormat. "Ampun, Paduka. Inilah angin yang Paduka pesan."

Sultan mengamati botol itu. "Tapi botol ini kosong."

"Tidak, Paduka. Isinya angin. Hamba menangkapnya sendiri, dengan susah payah."

Sultan penasaran dan membuka sumbatnya. Seketika tercium bau yang sangat tidak sedap. Sultan terbatuk-batuk dan menutup hidungnya. "Abu Nawas! Bau apa ini?"

"Ampun, Paduka," jawab Abu Nawas dengan wajah serius. "Itulah angin yang hamba tangkap tadi pagi. Bila Paduka tak percaya itu angin, Paduka sudah menciumnya sendiri. Dan bila Paduka ingin tahu dari mana angin itu berasal, hamba rasa sebaiknya tidak usah."

Para menteri tertawa sampai terguling-guling. Sultan yang tadinya kesal akhirnya ikut tertawa. "Dasar Abu Nawas! Kau benar-benar menangkap angin. Pergilah, sebelum anginmu mengisi seluruh istana!"

Abu Nawas pulang dengan selamat, dan kisahnya menjadi bahan tertawaan di seluruh Baghdad. Ia membuktikan bahwa perintah yang mustahil kadang bisa dijawab dengan akal sehat dan sedikit keberanian untuk menertawakan diri sendiri.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Abu Nawas dan Perintah Menangkap Angin” (kisah jenaka Abu Nawas, Baghdad). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Asia

Dongeng dan legenda turun-temurun dari berbagai negeri di Asia.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Asia →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Humor

Keledai Berkulit Singa
Humor 2 Menit Baca

Keledai Berkulit Singa

Seekor keledai menemukan kulit singa yang ditinggalkan oleh para pemburu di tepi hutan. Kulit itu masih utuh, lengkap dengan surai yang lebat dan kepala yang gagah. "Aha!" pikir keledai. &qu...

Cinta Seorang Pialang Sibuk
Humor 2 Menit Baca

Cinta Seorang Pialang Sibuk

Pitcher, juru tulis kepercayaan di kantor Harvey Maxwell, seorang pialang saham, memperlihatkan sedikit rasa heran di wajahnya yang biasanya datar ketika majikannya masuk pukul setengah sepuluh pagi b...

Kucing Bersepatu Bot
Humor 3 Menit Baca

Kucing Bersepatu Bot

Seorang tukang giling gandum meninggal dunia dan mewariskan hartanya kepada tiga orang putranya. Si sulung mendapat penggilingan, si tengah mendapat keledai, dan si bungsu hanya mendapat seekor kucing...